
IDNWATCH – Wacana “Zero Odol” yang digaungkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menghapus truk tronton berukuran besar dinilai tidak akan berjalan efektif oleh pakar transportasi. Prof. Dr. Herta Mustikasari, Guru Besar Transportasi ITS, menyatakan bahwa program ini “tidak realistis” tanpa persiapan infrastruktur dan alternatif angkutan yang memadai.
Alasan Program Zero Odol Sulit Diterapkan
-
Ketergantungan Industri
-
78% pengiriman barang berat masih mengandalkan truk odol
-
Biaya logistik dengan truk kecil naik 40-60%
-
-
Infrastruktur Tidak Mendukung
-
Hanya 23% jalan nasional yang mampu menahan beban truk modern
-
Pelabuhan dan gudang belum siap dengan sistem multimoda
-
-
Dampak Sosial
-
1,2 juta sopir truk odol terancam kehilangan pekerjaan
-
Harga barang diperkirakan naik 15-25%
-
“Kita tidak bisa serta-merta menghapus odol tanpa solusi komprehensif. Ini seperti memotong kaki untuk mengobati luka,” tegas Prof. Herta.
Perbandingan Biaya Logistik
| Moda Transportasi | Biaya (Rp/ton/km) |
|---|---|
| Truk Odol | 1.200 |
| Truk Modern | 1.800 |
| Kereta Api | 950 |
| Kapal | 700 |
Data Dukungan Infrastruktur
-
Jalan Tol: Hanya 45% yang bisa menampung truk kontainer
-
Rel Kereta: Baru 30% rute layak untuk angkutan barang
-
Pelabuhan: 12 dari 34 pelabuhan utama siap sistem multimoda
Solusi Alternatif yang Disarankan
-
Fase Out Bertahap (10-15 tahun)
-
Subsidi Konversi ke truk modern
-
Percepatan Pembangunan infrastruktur pendukung
Respons Kemenhub
Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi menanggapi:
“Kami sedang menyusun roadmap yang lebih komprehensif dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.”
















