
IDNWATCH – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) atau yang sering disebut MBG (Merdeka Belajar Global) terus menjadi sorotan. Bagaimana sebenarnya praktik serupa dijalankan di negara-negara lain? Ternyata, program pertukaran dan magang global yang diterapkan di Jerman, Norwegia, Brasil, dan India memiliki karakteristik yang sangat berbeda satu sama lain, sekaligus berbeda dengan model yang diusung Indonesia.
Jerman: Pendekatan “Dual System” yang Terintegrasi dengan Industri
Jerman telah lama dikenal dengan sistem pendidikannya yang sangat terintegrasi dengan dunia industri. Program serupa MBG di Jerman lebih menekankan pada model “Dual System”, dimana mahasiswa menghabiskan waktu secara paralel antara belajar di kampus dan bekerja langsung di perusahaan. “Kurikulum dirancang sangat ketat antara universitas dan mitra industri, sehingga lulusan benar-benar siap kerja,” jelas seorang pengamat pendidikan internasional. Pendekatan ini membuat pengalaman mahasiswa sangat terstruktur dan memiliki standar kompetensi yang jelas.
Norwegia: Model Pertukaran Global dengan Pendanaan Negara yang Kuat
Berbeda dengan Jerman, Norwegia lebih fokus pada program pertukaran pelajar internasional melalui skema seperti Erasmus+. Yang membedakan, pemerintah Norwegia memberikan dukungan pendanaan yang sangat besar kepada mahasiswanya untuk mengikuti program di luar negeri. “Hampir seluruh biaya hidup dan kuliah ditanggung negara, sehingga aksesnya sangat merata, tidak tergantung latar belakang ekonomi mahasiswa,” tambah pengamat tersebut. Model ini menitikberatkan pada perluasan wawasan global dan pengalaman budaya.
Brasil: “Science Without Borders” yang Fokus pada Sains dan Teknologi
Brasil pernah meluncurkan program ambisius “Ciência sem Fronteiras” (Science Without Borders). Program ini secara spesifik ditujukan untuk mengirim mahasiswa S1, S2, dan S3 di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) ke universitas ternama di luar negeri. Tujuannya jelas: memacu kapasitas iptek Brasil. Namun, program ini sempat mangkrak karena kendala anggaran, menunjukkan tantangan sustainability program berskala besar.
India: Skema “Study in India” yang Lebih Menarik Mahasiswa Asing
India justru mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih fokus mengirim mahasiswa keluar, pemerintah India lebih gencar mempromosikan program “Study in India” untuk menarik mahasiswa asing. Tujuannya adalah meningkatkan peringkat dan daya saing universitasnya di kancah global. Program untuk mahasiswa India sendiri lebih banyak diserahkan kepada inisiatif kampus dan beasiswa swasta, sehingga tidak terpusat seperti di Indonesia.
Lalu, Bagaimana Posisi Indonesia?
MBKM Indonesia bisa dibilang memiliki cakupan yang lebih luas, menggabungkan unsur magang, pertukaran pelajar, proyek independen, dan wirausaha. Keunikannya terletak pada kebijakan yang memungkinkan mahasiswa belajar di luar kampus hingga tiga semester. Tantangan terbesarnya adalah memastikan kualitas dan kesetaraan pengalaman di ribuan mitra yang berbeda, serta pemerataan akses bagi semua mahasiswa di Indonesia.
Dengan membandingkan berbagai model ini, terlihat bahwa setiap negara memiliki strategi dan fokusnya masing-masing dalam mengimplementasikan “MBG” versi mereka, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas domestik.
















