
IDNWATCH – Lebih dari setengah abad telah berlalu, namun misteri di balik peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965 masih menyisakan teka-teki sejarah yang terus ditelusuri. Sorotan utama tak hanya pada tragedinya, tetapi juga pada pasukan pengawal istana Cakrabirawa dan sosok kunci di baliknya, Letnan Kolonel (Letkol) Untung.
Cakrabirawa: Dari Pasukan Elit Pengawal Presiden hingga Jadi Alat Tragedi
Pasukan Cakrabirawa, yang secara resmi bernama Resimen Tjakrabirawa, dibentuk pada 1962. Awalnya, pasukan ini merupakan batalyon gabungan dari ketiga angkatan (TNI AD, AL, AU) dan Kepolisian dengan satu tugas utama: mengawal dan mengamankan Presiden Soekarno. Sebagai pasukan elit, setiap personelnya dipilih secara ketat. Namun, dalam perjalanannya, pasukan inilah yang justru menjadi ujung tombak dari peristiwa penculikan para jenderal pada dini hari 30 September 1965.
Letkol Untung: Komandan Batalyon yang Menjadi Otak Operasi?
Sosok Letkol Untung Syamsuri, seorang komandan batalyon di dalam Cakrabirawa, muncul sebagai pemimpin lapangan dari gerakan tersebut. Saat itu, ia berusia 39 tahun dan dikenal sebagai perwira yang pendiam. Dengan menggunakan wewenang dan aksesnya sebagai bagian dari pasukan pengawal, Untung memimpin pasukan untuk menculik sejumlah perwira tinggi TNI AD dari kediaman mereka. “Dia memanfaatkan posisinya di Cakrabirawa untuk melancarkan aksi tersebut,” jelas seorang sejarawan, seperti dikutip dari Kompas.com.
Motif di Balik Aksi: Pembersihan “Dewan Jenderal”?
Dalam pengumuman di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1 Oktober 1965 pagi, Letkol Untung menyatakan bahwa gerakannya bertujuan untuk menyelamatkan Presiden Soekarno dari ancaman “Dewan Jenderal” yang disebutnya akan melakukan kudeta. Gerakan ini mengklaim diri sebagai “Gerakan 30 September”. Namun, klaim ini hingga kini masih menjadi bahan perdebatan dan kajian sejarah yang kompleks, dengan berbagai versi dan interpretasi.
Dampak dan Akhir yang Tragis
Operasi yang dipimpin Untung berakhir dengan chaos. Enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD tewas. Gerakan ini dengan cepat ditumpas oleh pasukan di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto. Letkol Untung sendiri kemudian ditangkap, diadili oleh Mahmillub (Mahkamah Militer Luar Biasa), dan dihukum mati pada 1967. Pasukan Cakrabirawa kemudian dibubarkan, mengakhiri riwayat pasukan elit yang terlibat dalam salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia modern. Kisah Cakrabirawa dan Letkol Untung hingga hari ini tetap menjadi pengingat betapa rapuhnya garis antara pengawal dan pengkhianat dalam pusaran kekuasaan.
















