
IDNWATCH – Olahraga lari marathon kerap dipandang sebagai puncak prestasi kebugaran fisik. Namun, sebuah riset neurosains mutakhir memicu perdebatan dengan mengungkap dampak langsung dari aktivitas ekstrem ini terhadap organ paling vital: otak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lari jarak jauh dalam intensitas tinggi dapat memengaruhi sawar darah otak (blood-brain barrier) dalam jangka pendek.
Temuan Kunci: Peningkatan Penanda ‘Kebocoran’ Otak Pasca-Marathon
Studi yang melibatkan pemindaian otak (MRI) dan analisis biomarker darah pada pelari sebelum dan sesudah marathon menemukan hasil yang mencengangkan. Para peneliti mendeteksi peningkatan kadar protein tertentu dalam darah, seperti S100B, yang merupakan penanda biologis indicative dari terganggunya integritas sawar darah otak.
“*Peningkatan signifikan pada biomarker S100B pasca-lari marathon mengindikasikan adanya dampak stres fisiologis ekstrem pada otak. Ini bisa diartikan sebagai ‘kebocoran’ mikroskopis yang bersifat sementara,*” jelas peneliti utama studi tersebut, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (17/9/2025).
Mekanisme: Stres Fisik Ekstrem dan Aliran Darah yang Berubah
Para ahli menduga mekanisme di balik temuan ini terkait dengan kondisi fisik yang sangat menantang selama marathon. Kombinasi dari dehidrasi, peningkatan suhu tubuh (hipertermia), dan fluktuasi aliran darah yang drastis ke otak diduga menjadi pemicu utama yang memberi tekanan pada pembuluh darah kapiler di otak, sehingga menyebabkan permeabilitasnya meningkat untuk sementara waktu.
Apakah Berbahaya? Efek Jangka Pendek vs. Jangka Panjang
Pertanyaan kritisnya adalah: apakah efek ini berbahaya dalam jangka panjang? Para peneliti menekankan bahwa temuan ini menunjukkan efek akut atau jangka pendek. Pada sebagian besar individu sehat, otak memiliki kemampuan yang sangat baik untuk memulihkan dan memperbaiki sawar darahnya dalam beberapa hari atau minggu pasca-race.
“*Yang perlu menjadi perhatian adalah dampak kumulatif jika dilakukan berulang tanpa pemulihan yang cukup. Untuk pelari rekreasional yang hanya melakukan 1-2 marathon setahun dengan persiapan matang, risikonya sangat kecil. Yang berisiko adalah atlet ultra-marathon yang terus-menerus membebani tubuhnya tanpa recovery yang optimal,*” tambahnya.
Rekomendasi: Persiapan Matang dan Pemulihan adalah Kunci
Kesimpulan dari penelitian ini bukan untuk menakuti orang agar tidak lari marathon, tetapi untuk menekankan pentingnya pendekatan yang smart dalam berlatih. Persiapan fisik yang matang (termasuk adaptasi jarak jauh), manajemen hidrasi dan suhu tubuh selama race, serta yang paling penting, pemulihan (recovery) yang cukup pasca-lomba adalah kunci untuk meminimalisir dampak negatif potensial tersebut.
Studi ini membuka pintu untuk pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana olahraga ekstrem berinteraksi dengan kesehatan neurologis kita, menekankan bahwa bahkan aktivitas yang sangat sehat pun memerlukan keseimbangan dan kebijaksanaan.
















