

IDNWATCH – Di balik rutinitas harian yang tampak tenang, desa di sekitar kawasan industri Cikande, Kabupaten Serang, Banten, menyimpan sebuah kecemasan kolektif. Selama bertahun-tahun, warga hidup berdampingan dengan sebuah pabrik yang diketahui menggunakan bahan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) dalam proses produksinya, sebuah fakta yang menimbulkan dilema antara kekhawatiran akan keselamatan dan ketiadaan pilihan untuk meninggalkan tanah kelahiran.
“Tumbuh dalam Bayang-Bayang Kekhawatiran”: Kecemasan yang Tak Terucapkan
Kekhawatiran akan dampak paparan radioaktif menjadi semacam “bayang-bayang” yang menyertai kehidupan sehari-hari. Beberapa warga mengaku kerap mempertanyakan keamanan lingkungan mereka, terutama terkait dengan kualitas air dan udara. “Kami pasti khawatir. Apalagi kalau ingat anak-anak yang bermain di luar. Tapi, kami tidak punya alat untuk mengecek sendiri apakah ada bahaya atau tidak,” tutur Siti, seorang ibu rumah tangga yang tinggal tidak jauh dari lokasi pabrik, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (2/10/2025). Perasaan ini menggambarkan ketidakberdayaan di tengah potensi risiko yang tidak kasat mata.

Dilema Ekonomi vs Kesehatan: “Mau Pindah, Tapi Ke Mana?”
Di balik kecemasan tersebut, terdapat realitas ekonomi yang tak terbantahkan. Banyak warga yang telah turun-temurun menetap di daerah tersebut dan menggantungkan mata pencahariannya pada sektor industri di sekitarnya, termasuk pabrik yang bersangkutan. Relokasi bukanlah opsi yang mudah, bahkan hampir mustahil, bagi sebagian besar keluarga. Seorang warga lain, Asep, menyatakan dengan nada pasrah, “Mau pindah ke mana? Ini sudah rumah dan tanah kami. Mencari pekerjaan di tempat lain juga tidak mudah. Kami seperti terjepit.” Pernyataan ini menyiratkan konflik batin antara keinginan untuk hidup aman dan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Regulasi dan Pengawasan: Janji Keamanan yang Dipertanyakan
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) selaku regulator menyatakan bahwa pabrik tersebut telah memenuhi persyaratan keselamatan dan menjalani pengawasan rutin. Pelepasan radioaktif ke lingkungan diklaim selalu berada di bawah batas aman yang ditetapkan. Namun, janji keamanan ini kerap tidak sepenuhnya meredakan kegelisahan warga. Kurangnya sosialisasi yang transparan dan berkelanjutan tentang prosedur keselamatan serta hasil pemantauan lingkungan membuat sebagian warga merasa informasi yang mereka terima belum memadai.
Hidup dalam Ketidakpastian: Menerima Nasib atau Menunggu Kepastian?
Akhirnya, pilihan untuk bertahan bagi warga Cikande bukanlah sebuah keputusan yang diambil dengan lega, melainkan lebih pada sebuah bentuk penerimaan atas situasi yang ada. Mereka terus hidup dengan pertanyaan yang belum terjawab: seberapa besar sebenarnya risiko yang mereka hadapi? Sementara itu, harapan mereka hanya satu: bahwa pengawasan yang ketat benar-benar dilaksanakan dan janji keamanan dari pihak berwenang bukan sekadar wacana. Hidup mereka, pada akhirnya, menjadi taruhan dari sebuah keseimbangan rapuh antara pembangunan industri dan hak dasar untuk tinggal di lingkungan yang sehat dan aman.














