
IDNWATCH – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia tidak pernah mengimpor Liquefied Natural Gas (LNG) sepanjang sejarah. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons atas isu yang beredar mengenai ketahanan energi nasional dalam forum investasi di Jakarta.
Fakta Produksi LNG Indonesia
-
Kapasitas Produksi:
-
6 kilang LNG dengan kapasitas total 36,8 juta ton/tahun
-
Produsen utama: Tangguh, Bontang, Donggi-Senoro
-
-
Ekspor LNG 2024:
-
23,4 juta ton (terbesar ke Jepang, Korea Selatan, Tiongkok)
-
Nilai ekspor: US$12,8 miliar
-
-
Konsumsi Domestik:
-
30% produksi LNG untuk dalam negeri
-
Kebutuhan industri & pembangkit listrik
-
Klaim Bahlil vs Data Historis
| Tahun | Produksi (juta ton) | Ekspor (juta ton) | Catatan |
|---|---|---|---|
| 2020 | 29,1 | 20,3 | Surplus 8,8 juta ton |
| 2023 | 34,5 | 22,7 | Surplus 11,8 juta ton |
| 2025* | 36,8 | 23,4* | Proyeksi surplus 13,4 juta ton |
*Data semester I-2025
Penjelasan Teknis
-
Definisi LNG: Gas alam cair yang didinginkan hingga -162°C
-
Perbedaan dengan LPG: LNG untuk industri, LPG untuk rumah tangga
-
Mengapa Indonesia tidak impor:
-
Cadangan gas besar (43,3 TCF)
-
Infrastruktur kilang memadai
-
Respons Pakar Energi
Ekonom Energi Komaidi Notonegoro menjelaskan:
“Secara teknis benar, tapi beberapa wilayah seperti Batam pernah impor gas pipa dari Singapura untuk kebutuhan khusus.”
Tantangan ke Depan
-
Alokasi gas untuk industri harus seimbang
-
Pembangunan kilang mini LNG di daerah 3T
-
Transisi energi yang tidak mengorbankan sektor gas


















