
IDNWATCH – Hampir 1.000 siswa di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami keracunan makanan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Data mengejutkan ini memicu kekhawatiran serius dari orang tua dan mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah perbaikan menyeluruh terhadap tata kelola makanan, terutama di lingkungan sekolah.
Lonjakan Signifikan, Dinas Kesehatan Jogja Siaga Satu
Berdasarkan laporan resmi Dinas Kesehatan DIY, tercatat 997 kasus keracunan yang menimpa pelajar dari tingkat SD hingga SMA sepanjang Juli–Agustus 2025. Sebanyak 15 sekolah teridentifikasi sebagai klaster kejadian, dengan mayoritas kasus berasal dari jajanan yang dibeli di kantin maupun sekitar lingkungan sekolah.
“Ini adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) yang harus ditangani secara serius. Kami telah mengerahkan tim investigasi untuk memeriksa sampel makanan dan minuman yang diduga menjadi sumber keracunan,” tegas Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Rina Sari, dalam konferensi persnya.
Sumber Keracunan: Jajanan “Cilor” dan Es Sirup yang Terkontaminasi
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa dua jenis jajanan paling banyak dikeluhkan:
-
Cilor (aci telor gulung) dengan saus yang tidak memenuhi standar kebersihan
-
Es sirup warna-warni yang diduga menggunakan pewarna tekstil dan air mentah
Sejumlah siswa mengalami gejala mual, muntah, diare, dan kram perut hanya dalam hitungan jam setelah mengonsumsi jajanan tersebut.
Respons Pemerintah: Perketat Pengawasan dan Sosialisasi
Pemda DIY melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan segera meluncurkan sejumlah langkah darurat:
-
Melakukan pembinaan dan pemeriksaan mendadak terhadap seluruh kantin sekolah
-
Melarang sementara penjual jajanan di luar pagar sekolah selama dua minggu
-
Menyiapkan materi edukasi “Pangan Sehat” untuk siswa dan guru
“Kami juga akan mempertimbangkan pemberian sanksi tegas, termasuk pencabutan izin bagi penjual yang terbukti lalai,” tambah Kepala Dinas Pendidikan DIY, Budi Santoso.
Orang Tua Murid: “Sudah Waktunya Ada Kantin Sehat Berstandar Nasional”
Kekhawatiran orang tua semakin menjadi-jadi. Sebagian besar meminta sekolah menyediakan kantin sendiri dengan menu terjamin kebersihan dan gizinya.
“Selama ini anak-anak jajan sembarangan karena tidak ada kantin yang menjual makanan terjangkau dan sehat di sekolah. Ini harus jadi perhatian bersama,” ungkap Sari, orang tua dari siswa SDN Ngampilan yang juga ikut keracunan.
Peringatan untuk Daerah Lain: Jangan Tunggu Korban Baru Bertindak
Ahli Gizi Dr. Maya Fitriani mengingatkan, keracunan massal pada anak berpotensi menyebabkan gangguan jangka panjang seperti stunting dan penurunan imunitas.
“Pemerintah daerah lain harus belajar dari KLB di Jogja. Pengawasan pangan jajanan anak sekolah harus jadi prioritas, bukan sekadar program tambahan,” tegasnya.






















