
IDNWATCH – Kabar duka datang dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Korban kejadian luar biasa (KLB) keracunan Makanan Berbahaya dan Gizi (MBG) bertambah menjadi 145 anak. Diduga kuat, telur rebus yang dibagikan menjadi sumber wabah yang meresahkan masyarakat dan memenuhi pusat kesehatan tersebut.
Korban Berjatuhan, Fasilitas Kesehatan Kewalahan
Data terbaru dari Dinas Kesehatan setempat menunjukkan peningkatan signifikan jumlah korban. Sebanyak 145 anak dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan. Ratusan korban ini membuat sejumlah puskesmas dan fasilitas kesehatan di Nunukan kewalahan menangani pasien yang membludak. “Kami masih terus melakukan pendataan dan penanganan medis terhadap semua korban,” kata seorang perwakilan dinas kesehatan, Rabu (2/10/2025).
Telur Rebus Diduga Jadi Pemicu Utama Wabah
Investigasi awal yang dilakukan oleh tim gabungan Dinas Kesehatan dan BPOM mengerucut pada satu jenis makanan. “Dari hasil pemeriksaan sementara, telur rebus yang dibagikan diduga kuat menjadi penyebab keracunan massal ini,” jelas petugas yang bertugas di lokasi kejadian. Sampel telur dan bahan makanan lainnya telah dibawa untuk uji laboratorium guna memastikan jenis kontaminan yang menyebabkan puluhan anak jatuh sakit.
Gejala Seragam: Mual, Muntah, dan Diare Akut
Para korban, yang sebagian besar adalah anak-anak, menunjukkan gejala yang seragam. Keluhan utama yang dilaporkan adalah mual, muntah-muntah, dan diare akut. Kondisi ini menunjukkan adanya keracunan makanan yang berasal dari sumber yang sama. “Anak saya tiba-tiba muntah-muntah dan sakit perut setelah makan telur yang dibagikan tadi pagi,” ujar orang tua salah satu korban dengan wajah cemas.
Pemerintah Daerah Bergerak Cepat Tangani KLB
Menyikapi meluasnya kejadian ini, Pemerintah Kabupaten Nunukan telah mengambil langkah-langkah darurat. Upaya yang dilakukan mencakup perawatan intensif terhadap korban, penyelidikan epidemiologis untuk melacak sumber dan distribusi makanan, serta upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada dan segera melaporkan jika menemukan gejala keracunan. Wabah ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya keamanan pangan, terutama untuk konsumsi anak-anak.


















