
IDNWATCH – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara dan entitas yang masih membeli minyak mentah dan produk petrokimia dari Iran. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa pihak-pihak tersebut akan dikenakan “sanksi sekunder” yang berarti mereka akan dilarang melakukan bisnis dengan Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan “tekanan maksimum” yang kembali diaktifkan oleh pemerintahan Trump terhadap Iran.
Target Utama: China
Meskipun tidak menyebutkan negara secara spesifik, kebijakan ini secara luas dipahami ditujukan kepada China, yang merupakan importir terbesar minyak Iran. Data dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan bahwa pada tahun 2023, China mengimpor hampir 90% dari total ekspor minyak Iran. Langkah ini diperkirakan akan semakin memperburuk hubungan dagang antara Washington dan Beijing, yang sudah tegang akibat berbagai isu sebelumnya.
Dampak Ekonomi bagi Iran
Sanksi ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi Iran. Menurut laporan dari Bloomberg, jika ekspor minyak Iran berkurang sekitar dua pertiga akibat sanksi ini, negara tersebut bisa kehilangan pendapatan hingga US$30 miliar per tahun, setara dengan sekitar Rp489,31 triliun. Angka ini mencerminkan sekitar 7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Iran, yang akan semakin membebani perekonomian negara yang sudah menghadapi berbagai krisis, termasuk kekurangan listrik dan depresiasi mata uang.
Penundaan Negosiasi Nuklir
Peringatan Trump ini muncul setelah penundaan putaran keempat negosiasi nuklir antara AS dan Iran yang sedianya dijadwalkan berlangsung di Roma pada 3 Mei 2025. Penundaan ini disebabkan oleh masalah logistik dan teknis. Meskipun demikian, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan komitmennya untuk mencapai kesepakatan yang adil yang akan mengakhiri sanksi dan memastikan program nuklirnya tetap untuk tujuan damai.
Reaksi dan Implikasi Global
Langkah Trump ini mendapat perhatian luas dari komunitas internasional. Analis memperingatkan bahwa sanksi sekunder terhadap pembeli minyak Iran dapat mengganggu pasar energi global dan memicu ketegangan geopolitik. Selain itu, kebijakan ini juga dapat mempersulit upaya diplomatik untuk menyelesaikan isu nuklir Iran secara damai.
Dengan kebijakan ini, Trump menunjukkan pendekatan keras terhadap Iran, yang dapat memiliki implikasi luas tidak hanya bagi hubungan bilateral antara AS dan Iran, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi dan politik global.


















