
IDNWATCH – Sebelum era komputer dan kalkulator digital, bank-bank pada masa kolonial Belanda mengandalkan mesin register mekanis untuk menghitung dan mencatat transaksi keuangan. Alat ini menjadi tulang punggung operasional perbankan di Hindia Belanda hingga pertengahan abad ke-20.
Mesin Register: “Komputer”nya Zaman Kolonial
Mesin register, yang sering disebut cash register atau rekenmachine, merupakan teknologi mutakhir pada masanya. Alat ini tidak hanya menghitung uang tetapi juga mencetak struk dan menyimpan catatan transaksi.
“Mesin ini adalah solusi genius untuk era tanpa listrik dan digital. Semua bekerja dengan roda gigi, tuas, dan pegas,” jelas Arif Nugroho, Kurator Museum Bank Indonesia, dalam wawancara eksklusif dengan IDNWATCH.
Cara Kerja: Manual tapi Efisien
Setiap mesin dilengkapi dengan tombol-tombol besar yang mewakili nilai mata uang. Saat teller menekan tombol, mesin akan menggerakkan roda angka yang terhubung ke mekanisme internal. Suara “klik” yang khas menjadi penanda bahwa transaksi tercatat.
“Untuk menghitung jumlah besar, teller harus menginput data secara manual. Butuh ketelitian tinggi karena kesalahan hitung bisa berakibat fatal,” tambah Arif.
Museum Bank Indonesia Simpan Koleksi Utuh
Museum Bank Indonesia di Jakarta Barat menyimpan beberapa mesin register yang masih berfungsi. Salah satunya adalah model National yang diproduksi di Belanda pada tahun 1920-an.
“Kami sengaja merestorasi mesin ini agar pengunjung memahami betapa rumitnya proses transaksi pada masa lalu,” ujar Arif.
Warisan Teknologi yang Menginspirasi
Meskipun sudah tidak digunakan, mesin register mekanis menjadi bukti sejarah perkembangan teknologi finansial. Prinsip kerjanya yang analog justru mengajarkan pentingnya ketelitian dan akuntabilitas dalam setiap transaksi.
“Ini adalah fondasi dari sistem perbankan modern yang kita nikmati sekarang,” pungkas Arif.






















