Kulit Cashmere & Wol Jadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar di Industri Fashion

banner 468x60
dok. PAULO SERGIO ZEMBRUSKI/KOMPAS

IDNWATCH – Di balik citranya yang mewah, hangat, dan alami, ternyata bahan-bahan fashion seperti wol domba dan kulit cashmere dari kambing menyimpan dampak lingkungan yang sangat besar. Temuan terbaru mengungkap bahwa kedua bahan natural ini justru menjadi kontributor utama emisi gas metana (CH4) dalam industri mode global, bahkan lebih tinggi daripada dampak dari banyak bahan sintetis.

Sumber Metana yang Tidak Terduga: Pencernaan Hewan Penghasil Bulu

Laporan dari Lestari Kompas mengonfirmasi bahwa sumber utama emisi metana ini bukanlah dari proses produksi tekstilnya, melainkan langsung dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak itu sendiri. Domba dan kambing penghasil wol dan cashmere adalah ternak ruminansia yang menghasilkan metana dalam jumlah signifikan melalui proses enterik fermentasi (sendawa dan kentut).

banner 336x280

“*Setiap ekor kambing cashmere bisa menghasilkan sekitar 25-30 kilogram metana per tahun. Jumlah ini sangat signifikan ketika dilihat dari skala peternakan yang memasok industri fashion global,*” jelas seorang peneliti seperti dikutip dari laporan tersebut, Minggu (29/9/2025). Gas metana ini memiliki efek pemanasan global hingga 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam jangka 100 tahun.

Cashmere: Kemewahan dengan Jejak Karbon Tertinggi

Di antara semua serat alami, cashmere seringkali dianggap sebagai lambang kemewahan dan keberlanjutan. Namun, fakta di lapangan justru berkata sebaliknya. Untuk menghasilkan satu sweter cashmere, dibutuhkan bulu dari beberapa ekor kambing cashmere yang dipelihara di padang rumput. Proses peternakan inilah yang menjadi penyumbang terbesar jejak karbon dan metana dari produk akhirnya.

Tekanan pada Lahan dan Degradasi Lingkungan

Dampak lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah tekanan terhadap lahan. Meningkatnya permintaan global akan wol dan cashmere mendorong peternakan skala besar, yang seringkali berujung pada overgrazing (penggembalaan berlebihan). Praktik ini menyebabkan degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan bahkan berpotensi memicu desertifikasi (penggurunan) di beberapa wilayah seperti Mongolia dan Tibet yang menjadi sentra cashmere dunia.

Solusi dan Masa Depan Fashion yang Lebih Bertanggung Jawab

Menyikapi temuan ini, para pegiat fashion berkelanjutan mendorong beberapa solusi. Pertama, adalah dengan meningkatkan transparansi rantai pasok, sehingga konsumen bisa melacak asal-usul produk. Kedua, mendukung praktik peternakan yang lebih berkelanjutan dan regeneratif yang mampu mengelola emisi metana. Ketiga, diversifikasi bahan dengan menggunakan serat alternatif seperti lyocell, hemp, atau recycled wool yang memiliki dampak lingkungan lebih rendah.

Temuan ini memecah mitos bahwa semua bahan natural pasti ramah lingkungan. Pilihan fashion yang tampaknya paling “alami” justru bisa menyimpan bom waktu iklim yang tidak terlihat, mengubah citra mewah cashmere dan wol menjadi sebuah pertanyaan besar tentang etika dan keberlanjutan.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *