
IDNWATCH – Lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta) yang kini menjadi bagian dari kawasan Monas, Jakarta, kembali menyaksikan sebuah momen bersejarah yang penuh khidmat. Aktor dan politisi senior, Rano Karno, memimpin upacara peringatan Rapat Raksasa IKADA 1945, mengobarkan semangat perjuangan dan nasionalisme layaknya sang proklamator, Bung Karno, di tempat yang sama 80 tahun lalu.
Mengulang Jejak Sang Proklamator di Tanah Bersejarah
Upacara yang digelar pada Kamis (18/9/2025) pagi itu seakan membawa seluruh peserta melakukan perjalanan waktu. Rano Karno, yang juga merupakan Putra Sang Fadjar dan dikenal sangat menghormati warisan Bung Karno, tampil membakar semangat. Dari atas panggung utama, ia menyampaikan pidato yang mengingatkan kembali pada momen bersejarah 19 September 1945, ketika Bung Karno berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia yang masih muda didukung penuh oleh rakyatnya.
“Di tanah yang sama ini, Bung Besar menyampaikan pesannya. Kita bukan hanya mengingat, tetapi harus menghidupkan kembali semangat itu untuk menghadapi tantangan bangsa hari ini,” ujar Rano Karno dengan penuh semangat, diikuti gemuruh teriakan ‘Merdeka!’ dari puluhan ribu peserta upacara.
Puluhan Ribu Orang Hadir, Kibarkan Bendera Merah Putih
Ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat memadati lokasi. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pejabat, hingga veteran dan masyarakat umum. Mereka serempak mengibarkan bendera Merah Putih, menciptakan lautan merah putih yang gagah dan membanggakan. Suasana haru dan bangga terpancar jelas dari raut wajah setiap peserta, menunjukkan bahwa api nasionalisme tidak pernah padam.
Menjadi Pengingat akan Kekuatan Rakyat yang Bersatu
Rapat Raksasa IKADA 1945 adalah simbol kekuatan rakyat Indonesia yang bersatu padu mendukung kemerdekaan dan pemerintahannya. Acara yang dipimpin Rano Karno ini dimaksudkan untuk menjadi pengingat akan kekuatan tersebut. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa semangat persatuan dan gotong royong adalah kunci untuk mengatasi segala permasalahan bangsa, mulai dari ekonomi hingga tantangan global.
Acara ditutup dengan pembacaan puisi perjuangan dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Momen ini tidak hanya menjadi ritual seremonial, tetapi juga suntikan motivasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah bangsanya sendiri dan terus berkontribusi untuk kemajuan Indonesia.




















