Trotoar TB Simatupang Bakal Dipakai untuk Atasi Macet, Bagaimana Konsep dan Dampaknya?

banner 468x60
DOK. Hanifah Salsabila

IDNWATCH – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memanfaatkan sebagian trotoar di sepanjang Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, untuk memperlebar badan jalan guna mengatasi kemacetan parah yang terjadi setiap hari di kawasan tersebut. Kebijakan yang tergolong drastis ini langsung memantik perdebatan antara para pengguna kendaraan dan pegiat transportasi berkelanjutan.

Latar Belakang: Macet Kronis di Kawasan Strategis

TB Simatupang dikenal sebagai salah satu episentrum kemacetan ibu kota. Kawasan ini dipadati oleh perkantoran, pusat bisnis, kawasan industri, dan permukiman. Volume kendaraan, terutama pada jam sibuk, selalu jauh melampaui kapasitas jalan yang ada, menimbulkan kemacetan yang mengular dan menghabiskan waktu berjam-jam.

banner 336x280

Detail Rencana Pelebaran Jalan

Rencana yang digodok oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta adalah dengan mengurangi lebar trotoar yang ada di kedua sisi jalan. Ruang yang didapat dari penyempitan trotoar ini kemudian akan ditambahkan ke badan jalan untuk menciptakan jalur kendaraan tambahan.

“Kami sedang mempelajari kemungkinan teknisnya. Idealnya, pelebaran ini akan menambah satu jalur di setiap sisi jalan. Ini adalah langkah darurat untuk mengurai kemacetan yang sudah sangat akut,” ujar Kepala Dinas LH DKI JakartaArie Safrudin, dalam sebuah rapat koordinasi.

Respons Pro: Pengendara Kendaraan Pribadi Menyambut Baik

Rencana ini disambut positif oleh para komuter yang sehari-hari menggunakan kendaraan pribadi melintasi TB Simatupang. Mereka berharap kebijakan ini dapat mengurangi durasi terjebak macet.

“Sudah terlalu lama kami menderita macet di sini. Jika dengan menyempitkan trotoar lalu lintas bisa lebih lancar, saya setuju. Trotoar yang sekarang juga sering sepi pejalan kaki,” kata Budi (45), seorang pengendara mobil yang rutif melewati kawasan tersebut.

Respons Kontra: Kemunduran bagi Pejalan Kaki dan Transportasi Umum

Di sisi lain, para pegiat transportasi berkelanjutan dan pejalan kaki mengecam rencana ini. Mereka menilai kebijakan ini adalah langkah mundur yang hanya mengakomodir kepentingan kendaraan pribadi dan mengabaikan pejalan kaki.

“Alih-alih mendorong orang beralih ke transportasi umum atau berjalan kaki, malah trotoar yang disempit. Ini paradigma lama yang justru akan menarik lebih banyak kendaraan pribadi dan pada akhirnya kemacetan akan kembali terjadi (induced demand). Solusi yang benar adalah perbanyak dan perbaiki angkutan umum massal,” tegas Diana, seorang aktivis transportasi dari Institut Studi Transportasi.

Dampak pada Pejalan Kaki dan Lingkungan

Penyempitan trotoar berpotensi membuat pejalan kaki merasa tidak nyaman dan tidak aman, memaksa mereka berbagi ruang dengan kendaraan yang melintas. Selain itu, pengurangan ruang hijau atau pepohonan di tepi jalan untuk pelebaran juga dapat memperburuk efek urban heat island dan polusi udara.

Apa Langkah Selanjutnya?

Pemprov DKI masih akan melakukan kajian komprehensif, termasuk analisis dampak lalu lintas (ANDALALIN) dan menampung masukan dari berbagai pihak sebelum memutuskan untuk merealisasikan rencana ini.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *