Dedi Mulyadi Larang Guru Cicipi MBG di Sekolah, Hanya Tim Khusus yang Boleh

banner 468x60
dok. AFDHALUL IKHSAN/KOMPAS

IDNWATCH  – Kebijakan kontroversial dilayangkan oleh Plt. Wali Kota Bandung, Dedi Mulyadi. Melalui surat edaran resmi, ia secara tegas melarang para guru untuk melakukan pencicipian terhadap Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada murid di sekolah. Tugas itu, menurutnya, hanya menjadi kewenangan tim khusus yang dibentuk oleh pemerintah daerah.

Larangan Tebar Protes, Guru Hanya Boleh Awasi dari Jauh

Aturan baru ini langsung menuai reaksi dari sejumlah kalangan pendidik. Dalam implementasinya, para guru dan tenaga kependidikan kini hanya diperbolehkan mengawasi proses distribusi dan konsumsi MBG dari kejauhan, tanpa boleh menyentuh atau mencicipi makanan tersebut secara langsung. Langkah ini dinilai banyak guru justru mempersulit tugas pengawasan kualitas dan keamanan pangan yang dikonsumsi langsung oleh siswa-siswa mereka.

banner 336x280

Dedi Mulyadi Buka Suara: Ini Bentuk Standarisasi dan Profesionalitas

Menanggapi beragam reaksi yang muncul, Dedi Mulyadi memberikan penjelasan resmi. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini dibuat bukan tanpa alasan, melainkan untuk menstandarisasi dan memprofesionalkan program MBG. “Pencicipian dan pengawasan kualitas MBG harus dilakukan oleh tim khusus yang kompeten di bidangnya, untuk memastikan standar yang seragam dan akuntabel,” ujar Dedi Mulyadi, seperti dikutip dari Kompas.com, Minggu (29/9/2025). Menurutnya, langkah ini dapat meminimalisir subjektivitas dalam penilaian.

Tim Khusus Dinas Kesehatan Jadi Ujung Tombak Pengawasan

Lalu, siapa yang menggantikan peran guru dalam mencicipi? Dedy Mulyadi menjelaskan bahwa tugas critical ini sepenuhnya diserahkan kepada tim khusus dari Dinas Kesehatan Kota Bandung. Tim inilah yang nantinya akan bertanggung jawab untuk melakukan sampling, uji kualitas, dan pencicipian terhadap sampel MBG dari setiap sekolah, sebelum kemudian makanan tersebut didistribusikan kepada para siswa.

Simpangan Pendapat: Antara Profesionalisme dan Kepercayaan

Kebijakan ini menyisakan dua sisi pandangan yang berbeda. Di satu sisi, dianggap sebagai upaya profesional untuk memastikan akurasi dan standar kesehatan yang lebih baik. Di sisi lain, banyak yang mempertanyakan mengapa kepercayaan kepada guru yang setiap hari berinteraksi dengan murid justru dikurangi. Efektivitas pengawasan jarak jauh oleh guru dan responsivitas jika terjadi masalah di lapangan menjadi tantangan nyata yang masih perlu dibuktikan.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *