
IDNWATCH – Rupiah menguat 0,8% ke level Rp16.180 per dolar AS, mencatat kenaikan tertinggi dalam sepekan, setelah The Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan akan mempertahankan suku bunga AS di kisaran 4,5-4,75% hingga akhir tahun. Penguatan ini didorong aliran modal asing yang memburu aset emerging markets.
Pemicu Penguatan Rupiah
-
Sinyal Dovish The Fed:
-
Tidak ada kenaikan suku bunga hingga 2026
-
Potensi cut 25 bps Q1-2026
-
-
Faktor Domestik:
-
Surplus neraca perdagangan US$2,1 miliar (Juli)
-
Inflasi terkendali di 3,1% yoy
-
-
Aliran Modal:
-
Pembelian SUN oleh asing Rp4,5 triliun (net)
-
IHSG naik 1,2% ke 7.550
-
Perbandingan Nilai Tukar Regional
| Mata Uang | Perubahan (%) | Level |
|---|---|---|
| Rupiah | +0,8 | 16.180 |
| Ringgit | +0,5 | 4,25 |
| Baht | +0,3 | 33,90 |
| Peso | -0,2 | 54,10 |
Analisis Kebijakan The Fed
-
Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell:
“Inflasi AS sudah terkendali, tidak perlu kenaikan tambahan” -
Implikasi:
-
Melemahnya dolar AS secara global
-
Modal asing mengalir ke emerging markets
-
Proyeksi Bank Indonesia
-
Target 2025: Rp15.500-16.500/USD
-
Strategi:
-
Intervensi triple intervention (spot, DNDF, beli SUN)
-
Optimalisasi transaksi local currency settlement
-
Risiko yang Diwaspadai
-
Gejolak geopolitik Timur Tengah
-
Perlambatan ekonomi China
-
Lonjakan harga komoditas





















