

IDNWATCH – Selama ini, bahaya vape atau rokok elektrik lebih banyak dikaitkan dengan gangguan pernapasan dan paru-paru. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap dampak yang lebih mengkhawatirkan: kebiasaan menghisap vape ternyata juga significantly meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit diabetes tipe 2. Temuan ini mematahkan anggapan bahwa vape adalah alternatif yang ‘lebih aman’ dibandingkan rokok tembakau konvensional.
Kandungan Kimia dalam Uap Vape Ganggu Regulasi Gula Darah
Penelitian yang dilakukan pada sekelompok besar pengguna vape menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara kebiasaan tersebut dengan peningkatan resistensi insulin. Zat-zat kimia yang terkandung dalam uap vape, seperti nikotin, propilen glikol, gliserin, dan perasa buatan, diduga memicu respons peradangan kronis di dalam tubuh dan mengganggu sinyal insulin, hormon yang bertugas mengatur gula darah.

“*Paparan rutin terhadap uap vape membuat sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Akibatnya, pankreas harus bekerja lebih keras untuk memproduksi lebih banyak insulin, dan ini adalah jalur langsung menuju diabetes tipe 2,*” jelas salah seorang peneliti dalam studi tersebut, seperti dikutip dari Kompas Health, Rabu (17/9/2025).
Risiko pada Remaja dan Pengguna Jangka Panjang Semakin Tinggi
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal endokrinologi terkemuka ini juga menyoroti bahwa risiko tersebut terutama sangat signifikan pada remaja yang masih dalam masa perkembangan metabolisme, serta pada pengguna jangka panjang yang telah menggunakan vape selama bertahun-tahun. Penelitian observasi menunjukkan bahwa pengguna vape aktif memiliki tingkat HbA1c (penanda kadar gula darah rata-rata dalam 3 bulan) yang lebih tinggi dibandingkan dengan bukan pengguna.
Vape Bukan Alternatif yang Aman, Justru Tambah Beban Kesehatan
Studi ini semakin mengukuhkan posisi bahwa vape bukanlah solusi untuk berhenti merokok, melainkan hanya mengganti satu masalah kesehatan dengan masalah lainnya. Para ahli kesehatan masyarakat kembali menegaskan bahwa satu-satunya pilihan teraman adalah tidak menghisap apa pun, baik rokok konvensional maupun elektronik.
“Pesan kami jelas: jangan mulai menggunakan vape. Bagi perokok yang ingin berhenti, carilah metode yang terbukti secara medis dan aman, seperti konseling atau terapi pengganti nikotin, bukan beralih ke vape yang risikonya juga nyata,” tegas peneliti lainnya.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi peringatan keras, terutama bagi generasi muda yang seringkali tergiur oleh berbagai rasa vape yang menarik tanpa menyadari ancaman jangka panjang yang disembunyikannya terhadap metabolisme tubuh.



















