

IDNWATCH – Laporan analisis pertahanan global menyoroti kemajuan pesat yang dicapai China dalam pengembangan jet tempur generasi terbarunya. Pesawat seperti J-20 “Mighty Dragon” dan J-35 dinilai semakin mampu menantang supremasi udara yang selama ini dipegang oleh jet-jet tempur canggih Amerika Serikat, yakni F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.
Kemajuan Teknologi China yang Mengancam Hegemoni AS
Para analis militer menilai, China tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan teknologinya, tetapi telah menjadi pesaing serius. Jet-jet tempur buatan China tersebut telah mengadopsi teknologi siluman (stealth), radar canggih, dan sistem senjata yang mumpuni. Kemampuan mereka dalam manuver, jangkauan tempur, dan integrasi sistem pertahanan nasional telah meningkat secara signifikan.

“*China telah berinvestasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan. J-20 mereka, khususnya, bukan lagi sekadar tiruan, tetapi sebuah platform tempur yang matang dan terus disempurnakan, menjadi ancaman nyata di Teater Operasi Asia-Pasifik,*” ujar seorang analis pertahanan dari lembaga think tank global, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (6/9/2025).
Perbandingan Specs: F-22 & F-35 vs J-20 & J-35
Laporan tersebut membandingkan kemampuan teknis dari keempat jet tempur andalan kedua negara. Sementara F-22 Raptor masih diakui unggul dalam hal kinerja dogfight dan siluman, J-20 China disebut memiliki keunggulan dalam jangkauan tempur dan kapasitas bahan bakar internal. Sementara itu, F-35 unggul dalam integrasi jaringan sensor dan operasi bersama, sedangkan J-35 China yang lebih baru dikembangkan untuk menyaingi secara langsung varian laut dari F-35.
“Ini bukan lagi soal siapa yang memiliki pesawat terhebat secara individu, tetapi tentang sistem pertempuran yang terintegrasi. China sedang membangun ekosistem pertempuran modern yang lengkap,” tambah analis tersebut.
Pergeseran Kekuatan dan Dampaknya pada Keseimbangan Global
Kebangkitan kekuatan udara China ini menandai terjadinya pergeseran signifikan dalam keseimbangan kekuatan militer global, khususnya di kawasan Indo-Pasifik. Kemampuan China untuk memproyeksikan kekuatan udaranya semakin memperumit kalkulasi strategis AS dan sekutunya di kawasan.
“Dominasi udara mutlak AS yang pernah mereka nikmati pasca Perang Dingin perlahan tapi pasti mulai terkikis. China sekarang adalah peer competitor yang sebenarnya,” jelas seorang pengamat hubungan internasional.
Respons AS: Percepat Modernisasi dan Pengembangan Generasi Baru
Menyikapi kemajuan China, Pentagon dilaporkan semakin gencar mendorong program modernisasi dan akselerasi pengembangan jet tempur generasi keenam, seperti Next Generation Air Dominance (NGAD). Anggaran pertahanan AS juga dialokasikan untuk meningkatkan kemampuan F-35 dan memastikan keunggulan teknologinya tidak tersalip.
Laporan ini menyimpulkan bahwa persaingan teknologi udara antara dua adidaya ini akan terus memanas, mendefinisikan ulang masa depan peperangan udara dan dinamika keamanan global untuk beberapa dekade mendatang.




















