

IDNWATCH – Suara tangis pilu pecah di sejumlah peternakan ayam di Aceh. Bukan karena wabah penyakit, melainkan sebuah malapetaka yang disebabkan oleh pemadaman listrik bergilir. Sebanyak 18.000 ekor ayam dilaporkan mati secara massal akibat sirkulasi udara dan pendingin di kandang terhenti, mengakibatkan kerugian yang mencapai miliaran rupiah bagi para peternak.
Kandang Berubah Jadi Kubangan Massal, Suhu Meningkat Drastis
Kejadian ini berawal dari pemadaman listrik yang terjadi secara tiba-tiba. Tanpa pasokan listrik, kipas ventilasi dan sistem pendingin di kandang-kandang tertutup (closed house) berhenti beroperasi. Suhu di dalam kandang yang seharusnya terkontrol langsung melonjak drastis dalam waktu singkat. Ayam-ayam yang rentan terhadap suhu panas tersebut mengalami stres panas (heat stress) dan mati lemas secara beruntun. “Kondisinya sangat menyedihkan, kandang yang seharusnya hidup berubah seperti kubangan massal dalam hitungan jam,” ujar salah seorang peternak yang enggan disebutkan namanya.

*Peternak Menangis Lihat Aset Puluhan Tahun Hilang Sekejap
Para peternak, yang sebagian besar adalah peternak mandiri dengan modal terbatas, hanya bisa pasrah menyaksikan aset mereka musnah. Seekor ayam potong yang siap panen memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Dengan kematian 18.000 ekor, total kerugian ditaksir dapat mencapai miliaran rupiah. Kerugian ini bukan hanya nilai ayam, tetapi juga modal pakan, tenaga, dan perawatan yang telah dikeluarkan selama puluhan hari. Bagi banyak keluarga, ini adalah pukulan finansial yang sangat berat dan memupuskan harapan mereka untuk menutup cicilan atau memenuhi kebutuhan hidup.
*Tanggapan PLN: “Kami Tunggu Hasil Pemeriksaan”
Desakan dan tuntutan klarifikasi langsung dilayangkan para peternak kepada PT PLN (Persero). Mereka menuntut pertanggungjawaban atas insiden yang merugikan ini. Namun, jawaban yang diterima hingga berita ini diturunkan belum memuaskan. “Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut terkait penyebab pemadaman dan dampaknya,” demikian penjelasan singkat dari Humas PLN Wilayah Aceh, seperti dilaporkan Kompas.com. Respons yang dianggap lambat dan tidak konkret ini semakin menambah kepanikan dan kekecewaan para korban.
*Duka Aceh Menjadi Peringatan Nasional
Tragedi di Aceh ini bukan hanya sekadar berita lokal, tetapi menjadi alarm keras bagi ketahanan pangan dan keandalan pasokan listrik nasional, khususnya bagi sektor usaha yang bergantung pada listrik secara kritis. Insiden ini mempertanyakan komitmen penyediaan listrik yang andal serta mekanisme ganti rugi bagi pelanggan, khususnya pelaku usaha, yang mengalami kerugian akibat kegagalan pasokan. Bagi para peternak Aceh, yang mereka tunggu sekarang bukan hanya permintaan maaf, tetapi juga solusi nyata dan kompensasi yang dapat mengobati luka ekonomi yang dalam.



















