

IDNWATCH – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sempat tercabik oleh konflik internal yang memunculkan dua kepemimpinan berbeda. Dualisme antara Romahurmuziy (Rommy) dan M. Djan Faridz akhirnya menemui titik terang melalui proses islah atau rekonsiliasi yang dideklarasikan secara resmi pada tahun 2021, mengakhiri babak perpecahan yang berlarut-larut.
Akar Konflik: Perebutan Kontrol Pasca Muktamar Sama-Sama Klaim Menang
Dualisme ini berawal dari Muktamar PPP yang digelar pada 22-24 November 2019 di Serang, Banten. Dalam forum tersebut, dua kubu sama-sama mengklaim kemenangan. Satu kubu mengusung Rommy sebagai Ketua Umum, sementara kubu lain menunjuk Djan Faridz untuk posisi yang sama. Situasi ini memicu konflik panjang yang membuat partai berlambang Ka’bah ini terbelah, baik di tingkat pusat hingga daerah, bahkan sampai ke level kepengurusan di Kementerian Hukum dan HAM.

Jalan Panjang Menuju Meja Damai: Desakan Internal dan Tekanan Elektoral
Proses menuju islah tidak instan. Butuh waktu hampir dua tahun dengan berbagai tekanan, baik dari dalam internal partai maupun faktor eksternal. “Proses islah ini adalah upaya untuk menyatukan kembali seluruh keluarga besar PPP, mengakhiri semua perbedaan, dan memulai babak baru yang lebih solid,” ujar salah satu tokoh yang terlibat dalam proses rekonsiliasi kala itu. Desakan untuk segera bersatu semakin kuat menyongsong Pemilu 2024, di mana perpecahan hanya akan melemahkan elektabilitas partai.
Momen Bersejarah: Deklarasi Islah 2021 yang Satukan Kembali Ka’bah
Puncak dari proses perdamaian ini terjadi pada tahun 2021. Kedua kubu akhirnya duduk dalam satu meja dan menyepakati penyatuan kembali. Melalui sebuah deklarasi islah, disepakati pembentukan kepemimpinan bersama yang mengakomodir kedua kubu untuk memimpin PPP menuju Pemilu 2024. Momen ini menandai berakhirnya secara resmi periode dualisme kepemimpinan yang telah berlangsung sejak akhir 2019.
Pasca Islah: Konsolidasi Menuju Pemilu 2024
Dengan berakhirnya dualisme, PPP bisa fokus melakukan konsolidasi internal. Penyatuan kembali basis massa dan kader di seluruh Indonesia menjadi pekerjaan rumah utama. Babak baru pasca-islah ini diharapkan dapat mengembalikan kekuatan PPP sebagai partai politik yang solid dan diperhitungkan dalam peta perpolitikan nasional, membawa pesan persatuan yang menjadi esensi dari nama partai itu sendiri.



















